Ketika petunjuk ditangkap hilang

Saat bacaan Quran tiada rasa, seakan-akan hilang manisnya hidup bertuhan.

Beberapa kiriman Whatsapp diterima.

Dia memberikan mesej bernada sedih & pilu, mengharapkan ungkapan pedoman.

Sejujurnya, tertanya-tanya apa yang mempengaruhi kekuatan emosi yang digarap lewat bacaan Al-Quran? Mengapa ada ketika bacaan Quran dirasakan ibarat sekadar perkataan-perkataan yang lalu di depan mata tanpa memberi sebarang makna?

Apakah status akademik yang mempengaruhi seseorang untuk memiliki interaksi indah dengan Quran? Semakin tinggi tahap pendidikan seseorang dalam bidang agama, semakin banyak petunjuk Quran yang akan dia garap?

Tetapi, ternyata ada hal lain yang mempengaruhi kekuatan diri menggarap pedoman ilahi.


الم ﴿١﴾ ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ ﴿٢

Alif laam Mimm. Itulah Al-Kitab yang tiada keraguan di dalamnya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa.

Al-Baqarah, 2 : 1-2

Kemampuan meraih petunjuk Tuhan daripada Al-Kitab sangat terkait rapat dengan taraf atau kualiti ketaqwaan setiap individu.

Ya, kualiti taqwa itu ibarat joran yang mampu memancing petunjuk. Tanpanya, usah pelik berkali-kali menghadap bicara Tuhan tetapi tidak berjaya menggarap sesuatu.

Tidak kira setinggi mana pangkat ilmu seseorang, biarpun bergelar profesor atau doktor, saat berhadapan dengan kalam Tuhan, faktor yang memampukan dirinya meraih petunjuk daripada Tuhan adalah kualiti taqwaNya kepada Tuhan. Bukan lagi kualiti material miliknya.

Bukan soal kepandaian.

Bukan soal kekayaan.

Bukan soal status.

Biarpun seseorang itu di sisi manusia terlihat miskin, andai jiwa taqwa kepada tuhannya tinggi, dialah selayaknya meraih petunjuk daripada Kalam ilahi.


Dan sesungguhnya, Kami telah menurunkan kepada kamu, ayat-ayat keterangan yang menjelaskan (hukum-hukum suruhan dan tegahan), dan contoh teladan orang-orang yang telah lalu sebelum kamu, serta nasihat pengajaran BAGI orang-orang yang bertaqwa.

An-Nur, 24 : 34

Justeru, belumkah tiba masanya untuk setiap jiwa bersungguh-sungguh membangun kualiti taqwa dalam diri agar mampu mendapatkan petunjuk wahyu, tidak lagi ditangkap hilang?

Taqwa, awak kat mana?

Siapakah orang yang bertaqwa ?

  • Beriman kepada Allah, hari akhirat, malaikat, dan segala Kitab, dan sekalian Nabi; (2:177)
  • Infaq akan hartanya sedang dia menyayanginya, – kepada kaum kerabat, dan anak-anak yatim dan orang-orang miskin dan orang yang terlantar dalam perjalanan, dan kepada orang-orang yang meminta (2:177)
  • Mendirikan Solat  (2:177)
  • Mengeluarkan zakat (2:177)
  • Menyempurnakan janjinya apabila membuat perjanjian; (2:177)
  • Ketabahan orang-orang yang sabar dalam masa kesempitan, dan dalam masa kesakitan, dan juga dalam masa bertempur dalam perjuangan perang Sabil. (2:177)
  • Orang-orang yang mendermakan hartanya pada masa senang dan susah (3:134)
  • Orang-orang yang menahan kemarahannya (3:134)
  • Orang-orang yang memaafkan kesalahan orang.  (3:134)
  • Dan juga orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji, atau menganiaya diri sendiri, mereka segera ingat kepada Allah lalu memohon ampun akan dosa mereka  (3:135)
  • Tidak meminta izin menarik diri daripada perjuangan (9:44)
  • Tidak bertujuan hendak mendapat pengaruh atau kelebihan di muka bumi (28:83)
  • Tidak ingat hendak melakukan kerosakan (28:83)

Lihat senarai di atas.

Koreksi diri.

Apa khabar taqwa saya?

Bukankah bulan Al-Quran (Ramadhan) punyai misi mendapatkan taqwa?

One thought on “Ketika petunjuk ditangkap hilang

  • March 14, 2019 at 9:50 am
    Permalink

    terimakasih untuk ilmunya yang sangat bermanfaat

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.